Scroll to top

Guru Revolusi dari Timur: Sukarno, Castro dan Mimpi Kemandirian
Oleh : Barata Brahmana Sembiring

Author
By administrator
15 Mar 2026, 23:22:31 WIB Opini
 Guru Revolusi dari Timur: Sukarno, Castro dan Mimpi Kemandirian

PADA awal dekade 1960-an, sebuah pertemuan bersejarah terjadi antara Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno dan pemimpin revolusi Kuba, Fidel Castro. Pertemuan itu bukan sekadar agenda diplomatik biasa. Ia menjadi simbol perjumpaan dua arus besar sejarah: revolusi di Asia dan revolusi di Amerika Latin.


Bagi Soekarno, kunjungan ke Kuba pada tahun 1960 merupakan bagian dari pembuktian politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif. Indonesia tidak ingin berdiri di bawah bayang-bayang kekuatan besar dunia. Negara muda yang baru merdeka itu ingin berbicara dengan suaranya sendiri.


Namun langkah itu tidak sepenuhnya disukai oleh Amerika Serikat. Presiden Dwight D. Eisenhower disebut memandang kunjungan tersebut dengan kecurigaan. Bahkan, menurut sejumlah catatan sejarah, aparat intelijen Amerika Serikat sempat diminta mengamati prospek kunjungan Soekarno ke Kuba, yang saat itu baru saja menjadi pusat revolusi anti-kapitalisme di kawasan Karibia.




Che Guevara dan Jalan Menuju Havana


Jauh sebelum kunjungan Soekarno ke Kuba, jembatan antara Jakarta dan Havana sebenarnya sudah dibangun lebih dulu oleh seorang tokoh revolusi lainnya: Ernesto “Che” Guevara.


Pada 1959, Che Guevara datang ke Jakarta membawa undangan resmi dari Fidel Castro. Saat itu Indonesia tengah berada dalam suasana politik yang bergolak. Konstituante baru saja dibubarkan, dan Soekarno mengembalikan negara pada garis besar revolusi melalui Dekrit Presiden 1959.


Perkembangan politik Indonesia itu menarik perhatian para pemimpin revolusi Kuba. Castro melihat Soekarno bukan hanya sebagai kepala negara, tetapi sebagai pemikir revolusi dari dunia Timur.


Konon, suatu malam Castro membaca terjemahan pidato terkenal Soekarno “Indonesia Menggugat”. Ia terkesan oleh gagasan besar tentang pembebasan bangsa-bangsa tertindas dari kolonialisme dan imperialisme. Dari situlah muncul keinginan untuk belajar langsung dari pemimpin Indonesia tersebut.


Che Guevara pun dikirim ke Jakarta


Pertemuan Che dan Soekarno berlangsung hangat. Dalam sebuah percakapan setelah makan malam di Istana Negara, Soekarno menyampaikan pandangannya tentang revolusi.


Baginya, perubahan sejarah tidak pernah lahir dari langkah setengah hati. Revolusi, menurut Sukarno, adalah upaya menjebol struktur lama yang menindas agar dapat dibangun tatanan baru yang lebih manusiawi.


Setelah makan malam itu, Che bahkan menghadiahkan cerutu Kuba kepada Soekarno. Keduanya kemudian berbincang di teras Istana Negara.


Sambil mengisap cerutu, Soekarno menunjuk ke arah bangunan-bangunan di sekitar Jakarta yang merupakan peninggalan kolonial Belanda. Dia menjelaskan kepada Che bagaimana bangsa-bangsa kolonial membangun kekayaan selama berabad-abad, sementara bangsa yang dijajah hanya menjadi buruh bagi kepentingan mereka.


Kesadaran itulah, kata Soekarno, yang membuat bangsa Indonesia berjuang menjadi “tuan di negeri sendiri”.


Kemerdekaan bukan sekadar mengganti penguasa, tetapi membangun kehormatan bangsa. Dari kehormatan itulah sebuah bangsa dapat menggali kekayaan alamnya, mengembangkan kebudayaannya dan menentukan nasibnya sendiri.


Dalam pandangan Soekarno, kemenangan Indonesia melawan kolonialisme terjadi karena satu faktor utama: persatuan.


Jika negara-negara baru di dunia dapat bersatu, katanya kepada Che, maka dominasi modal global akan menghadapi kekuatan yang seimbang. Karena itu Indonesia ingin menjadi lokomotif persatuan negara-negara yang baru merdeka.


Setelah persatuan tercapai, barulah modal diarahkan sepenuhnya pada kesejahteraan umum: membangun sekolah, rumah sakit, dan fasilitas rakyat.


Dari situlah revolusi dimulai.




Havana dan Persahabatan Revolusi


Ajakan Che Guevara akhirnya berbuah kunjungan resmi Soekarno ke Kuba pada 1960. Di Havana, ia disambut langsung oleh Fidel Castro dengan penuh kehormatan.


Kuba saat itu berada dalam situasi geopolitik yang sangat tegang. Negara kecil di Karibia itu berdiri di dekat pusat kekuatan kapitalisme dunia: Amerika Serikat. Di sisi lain, Kuba juga menjalin hubungan dengan Uni Soviet sebagai penyeimbang kekuatan.


Dalam pertemuan mereka, Castro banyak bertanya kepada Sukarno mengenai konsep revolusi dan kemandirian negara.


Soekarno menjawab dengan sederhana namun tegas: syarat pertama sebuah revolusi adalah kemandirian. Sebuah bangsa tidak boleh menggantungkan nasibnya kepada kekuatan luar.


Kemandirian, menurut Soekarno, akan melahirkan tiga hal penting bagi suatu bangsa: kehormatan, kemanusiaan dan kecerdasan.


Karena itu, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mengenali kekuatan ekonomi sendiri, lalu menggunakan seluruh potensi itu untuk kesejahteraan rakyat. Negara, kata Soekarno, tidak boleh menjadi tempat penggarongan atas nama kapital.


Pesan itu meninggalkan kesan mendalam bagi kepemimpinan Kuba.


Dalam perjalanan waktu, negara tersebut kemudian dikenal memiliki sistem kesehatan publik yang kuat dan pendidikan gratis yang luas bagi rakyatnya—sebuah model pembangunan yang menempatkan kesejahteraan umum sebagai tujuan utama.



Momen Santai di Tengah Revolusi


Di balik percakapan serius tentang revolusi, hubungan Soekarno dan Castro juga diwarnai keakraban yang manusiawi.


Dalam salah satu momen santai yang dicatat dalam buku Total Bung Karno karya Roso Daras, kedua pemimpin itu pernah tertawa lepas ketika saling menukar penutup kepala. Soekarno mencoba topi militer khas Castro, sementara Castro mengenakan kopiah hitam Sukarno.


Pemandangan itu memperlihatkan persahabatan yang melampaui protokol diplomatik.


Kedatangan Sukarno ke Havana bahkan disambut meriah oleh rakyat Kuba. Sepanjang jalan menuju pusat kota, warga berdiri berjejer sambil membawa poster bertuliskan “Viva President Soekarno”. Suasananya menyerupai pesta rakyat bagi seorang sahabat revolusi.


Ada pula kisah kecil yang membuat Soekarno tertawa terbahak-bahak.


Dalam iring-iringan kendaraan menuju kota, konvoi tiba-tiba berhenti ketika salah satu polisi pengawal menghentikan motornya. Semua orang sempat bingung. Ternyata polisi tersebut hanya ingin meminjam korek api dari sopir mobil presiden untuk menyalakan cerutu Kuba miliknya.


Setelah cerutu menyala, ia memberi hormat kepada Soekarno dengan santai, lalu kembali memimpin konvoi seolah tidak terjadi apa-apa.


Soekarno tertawa melihat kejadian itu. Ia memahami bahwa Kuba saat itu masih berada dalam suasana revolusi yang penuh semangat dan spontanitas.


Warisan yang Terlupakan


Kisah pertemuan Soekarno dan Castro bukan sekadar cerita romantik tentang dua tokoh besar dunia. Ia mengandung gagasan besar tentang kemandirian bangsa dan kesejahteraan rakyat.


Bagi Soekarno, kekayaan alam suatu negara seharusnya menjadi sumber kebahagiaan bagi rakyatnya. Modal tidak boleh dibiarkan menjadi alat penindasan baru setelah kolonialisme runtuh.


Revolusi, dalam pandangan itu, bukan sekadar pergantian kekuasaan. Ia adalah upaya membangun masyarakat yang bermartabat, terdidik dan sejahtera.


Pertemuan di Havana enam puluh tahun lalu mengingatkan bahwa kemerdekaan sejati bukan hanya soal bendera dan kedaulatan politik. Dia juga menyangkut kemampuan sebuah bangsa mengelola kekayaan dan masa depannya sendiri.


Di situlah sesungguhnya makna revolusi yang pernah dibicarakan panjang oleh dua pemimpin dunia tersebut. Sebuah mimpi tentang bangsa-bangsa merdeka yang berdiri tegak—bukan sebagai buruh sejarah, melainkan sebagai tuan atas nasibnya sendiri. **



  • Penulis adalah pengusaha, sejarahwan, tokoh Marheanisme dan Budayawan Karo.

Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar