Scroll to top

Ancaman Karhutla Datang Lebih Dini, Ribuan Titik Api Gambut Terdeteksi

Author
By administrator
12 Mar 2026, 18:29:35 WIB Nasional
Ancaman Karhutla Datang Lebih Dini, Ribuan Titik Api Gambut Terdeteksi

GEGAS ||  JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan gambut Indonesia kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan. Meski sebagian wilayah masih mengalami musim hujan, ribuan titik panas sudah terdeteksi sejak awal tahun 2026, menandakan kebakaran berpotensi terjadi lebih dini sebelum musim kemarau tiba.


Analisis terbaru Pantau Gambut mencatat sedikitnya 5.490 titik panas (hotspot) muncul di kawasan Kesatuan Hidrologis Gambut (KHG) pada Januari 2026. Jumlah itu masih tinggi pada Februari dengan 5.114 titik panas yang kembali terdeteksi di wilayah gambut Sumatera dan Kalimantan.


Temuan ini mengindikasikan bahwa kebakaran gambut tidak lagi semata fenomena musiman yang terjadi saat kemarau panjang, melainkan sudah muncul bahkan ketika curah hujan masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia.


Sebaran titik panas menunjukkan pola yang memicu kekhawatiran serius. Provinsi Riau dan Kalimantan Barat tercatat sebagai dua wilayah dengan jumlah titik api tertinggi pada Februari 2026.


Di Riau, Pantau Gambut mencatat sekitar 2.890 titik panas, sementara di Kalimantan Barat terdapat sekitar 1.316 titik panas. Konsentrasi titik api ini memperlihatkan bahwa kawasan gambut yang telah mengalami degradasi tetap berada dalam kondisi sangat rentan terhadap kebakaran.


Selain itu, pemetaan yang dilakukan juga menemukan bahwa sebagian titik panas berada di kawasan konsesi perusahaan. Setidaknya 1.080 titik panas terdeteksi di area konsesi perkebunan sawit berstatus Hak Guna Usaha (HGU) dan sekitar 250 titik panas berada di konsesi hutan tanaman industri (PBPH-HTI).


Data tersebut memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya terjadi di wilayah terbuka, tetapi juga di kawasan yang secara hukum berada dalam pengelolaan korporasi.


Kepala Divisi Kajian dan Kampanye Walhi Kalimantan Barat, Indra Syahnanda, mengatakan peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir sudah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di provinsi tersebut.


“Peningkatan kebakaran dalam dua bulan terakhir telah memicu munculnya kabut asap di sejumlah wilayah di Kalimantan Barat,” ujarnya.


Kabut asap yang muncul tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan warga. Bahkan, dilaporkan terdapat seorang warga yang meninggal dunia dan diduga berkaitan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan.


Sementara itu, Direktur Eksekutif Walhi Riau, Eko Yunanda, mengungkapkan bahwa kebakaran di wilayahnya banyak terjadi di pulau-pulau kecil yang didominasi ekosistem gambut.


“Kebakaran di Riau banyak terjadi di pulau-pulau kecil seperti Pulau Bengkalis, Pulau Rupat, dan Pulau Mendol yang didominasi ekosistem gambut,” kata Eko.


Menurutnya, dalam beberapa dekade terakhir kawasan tersebut mengalami perubahan signifikan akibat pembukaan lahan serta ekspansi berbagai konsesi yang membuat ekosistem gambut semakin rentan terbakar.


Kekhawatiran terhadap karhutla juga diperkuat oleh proyeksi kondisi iklim tahun ini. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat di banyak wilayah Indonesia.


Sekitar 46 persen wilayah Indonesia diperkirakan mengalami kemarau lebih awal dibandingkan pola normal. Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga Agustus 2026 dengan kondisi yang berpotensi lebih kering di sejumlah daerah.


Juru Kampanye Pantau Gambut, Putra Saptian, menegaskan bahwa kemunculan ribuan titik panas pada awal tahun harus menjadi peringatan serius bagi pemerintah dan semua pihak.


“Jika kebakaran sudah muncul bahkan saat musim hujan, itu berarti kerentanan ekosistem gambut kita sudah sangat tinggi dan perlindungan belum berjalan efektif,” ujarnya.


Putra menilai tanpa langkah serius untuk melindungi dan memulihkan ekosistem gambut yang telah rusak, kebakaran akan terus berulang setiap tahun dengan skala kerusakan yang semakin besar.


Karena itu, Putra menekankan pentingnya langkah pencegahan sejak dini melalui penguatan perlindungan kawasan gambut, peningkatan pengawasan terhadap wilayah konsesi, serta percepatan pemulihan ekosistem gambut yang telah mengalami degradasi.


“Pemerintah perlu memperkuat perlindungan kawasan gambut, meningkatkan pengawasan pada wilayah konsesi, serta mempercepat pemulihan ekosistem gambut yang telah rusak agar kebakaran tidak terus berulang setiap tahun,” katanya. * (rls/Marden)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar