Scroll to top

Berbuka Lontong Cap Go Meh di Jalan Karet

Author
By administrator
03 Mar 2026, 23:54:55 WIB Nasional
Berbuka Lontong Cap Go Meh di Jalan Karet

DI bawah lampion merah yang menggantung rendah, azan Magrib dan tabuhan tambur barongsai bertemu. Ramadan dan Cap Go Meh bersulang dalam semangkuk lontong hangat.


Senja turun pelan di Jalan Karet, Kampung Melayu Tionghoa, Pekanbaru. Deret lampion merah bergoyang ditiup angin, memantulkan cahaya temaram di wajah-wajah yang menunggu beduk Magrib. Di ujung jalan, aroma santan dan kuah opor mengepul dari panci-panci besar. 


Tahun ini, Cap Go Meh tak sekadar penutup rangkaian Imlek. Ia bersanding dengan Ramadan—membuat perayaan terasa lebih hangat, lebih intim, lebih Indonesia.


Perayaan hari ke-15 Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili itu menjadi ruang perjumpaan. Warga yang “ngabuburit” berdatangan, menyusuri kawasan pecinan kecil di jantung kota. Panitia Imlek Bersama membagikan takjil dan menyiapkan hidangan berbuka gratis. Lontong Cap Go Meh, Sate dan makanan Vegetarian serta berbagai aneka minuman.


Bagi masyarakat Muslim Pekanbaru jangan ragu untuk menyantap hidangan untuk membatalkan puasa di Jalan Karet ini. Sejatinya, makanan dan minuman atau Takjil ini merupakan jualan stand lapak kuliner warga Muslim tempatan yang berdagang di Jalan Karet.


Namun untuk Perayaan Cap Go Meh ini, makanan minuman Takjil ini diborong oleh Panitia dan diberikan bagi warga Pekanbaru untuk berbuka puasa.


Ketua Imlek Bersama 2577/2026, Djohan Oei, berdiri di panggung sederhana. Ucapannya ringan, namun mengandung makna yang dalam: terima kasih kepada para tamu, kepada pemerintah kota, kepada semua yang hadir untuk merayakan bukan hanya Cap Go Meh, melainkan juga kebersamaan. 


“Malam ini kita berbuka bersama saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah puasa,” ujarnya. Sebuah kalimat yang terdengar biasa, tetapi di Jalan Karet, ia menjelma peristiwa.



Cap Go Meh sendiri adalah penutup perayaan Tahun Baru Imlek—malam purnama pertama dalam kalender Tionghoa. Dalam tradisi, ia melambangkan keberuntungan dan harapan baru. Lampion merah yang dinyalakan dipercaya menerangi jalan hidup, mengusir sial, memanggil berkah. Barongsai dan naga liong menari di antara tepuk tangan, menjadi simbol kekuatan dan kesatuan. Di Pekanbaru, simbol-simbol itu kini berdampingan dengan suara azan dan doa berbuka.


Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, sedianya membuka acara, namun agenda Safari Ramadan membuatnya berhalangan hadir. Ia diwakili Pelaksana Tugas Sekretaris Daerah, Ingot Ahmad Hutasuhut. Hadir pula Kapolresta Pekanbaru Kombes Pol Muharman Arta, Dandim 0301 Pekanbaru, Camat Senapelan, Ketua Majelis Kerapatan Adat LAM Kota Pekanbaru, Ketua FKUB, GP Ansor, Ikatan Pelajar Putri NU, mahasiswa Muhammadiyah, dan sejumlah tokoh masyarakat lain. Daftar undangan itu seperti potret kecil keberagaman kota ini.


Menjelang Magrib, barongsai berhenti sejenak. Denting simbal mereda. Orang-orang berdiri, sebagian menengadahkan tangan. Azan berkumandang, menyelinap di sela lampion dan umbul-umbul. Doa dipanjatkan.



Di meja-meja panjang, tak ada sekat. Yang berpuasa dan tidak berpuasa duduk berdampingan. Anak-anak berlarian dengan lampion kecil di tangan. Orang tua saling menyapa. Cap Go Meh tak lagi sekadar festival warna-warni; ia menjadi ruang temu. Ramadan tak lagi hanya ritual personal; ia menjelma perayaan komunal.


Di tengah riuh itu, Pekanbaru seperti mengingat dirinya sendiri: kota sungai, kota perlintasan, kota yang tumbuh dari perjumpaan banyak etnis dan keyakinan. Jalan Karet malam itu bukan hanya panggung budaya Tionghoa, melainkan juga cermin toleransi yang bekerja tanpa banyak slogan.


Ketika malam kian pekat dan lampion makin terang, pesan Cap Go Meh terasa sederhana: harapan baru selalu mungkin. Dan di bulan Ramadan, harapan itu menemukan bentuknya dalam berbagi. Sepiring Lontong Cap Go Meh, sepenggal doa, dan secuil kebersamaan—cukup untuk membuat sebuah kota merasa utuh. * (Denny Winson)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar