Scroll to top

Prahara di Rumah sang Selebgram : Saat Utang Setengah Miliar Ditagih dengan Joget dan Bunga

Author
By administrator
24 Jun 2026, 20:46:25 WIB Riau
Prahara di Rumah sang Selebgram : Saat Utang Setengah Miliar Ditagih dengan Joget dan Bunga

GEGAS || PEKANBARU - Pagi itu, Jalan Firdaus di Kelurahan Tangkerang Labuai, Kecamatan Bukit Raya, Pekanbaru, mendadak riuh.Bukan oleh sirene polisi atau bentrokan fisik yang jamak mewarnai drama penagihan utang, melainkan oleh entakan musik dari sebuah speaker portabel.


Selasa, 23 Juni 2026, belasan pria paruh baya berkumpul di depan sebuah rumah berpagar rapat. Tangan mereka tidak memegang pentungan atau senjata tajam, melainkan mikrofon dan tangkai-tangkai bunga segar. 


Dengan langkah ritmis, mereka mulai berjoget, membagi-bagikan bunga kepada tetangga yang melintas, lalu menyapa sang pemilik rumah layaknya pengamen jalanan yang teramat santun.


"Tok..Tok..Tok.. Ada Pak Suriyadi? Pak, maaf, Pak. Izin, Pak. Permisi, Pak... Tolong, kapan mau kembalikan uang Pak Budi? Maaf, tolong, permisi, ya Pak,"* sayup-sayup suara itu menggema melalui mikrofon.


Di balik aksi teatrikal yang mengundang senyum geli warga sekitar itu, terpampang tiga buah spanduk besar. Isinya kontras dengan kesantunan cara mereka memanggil: seuntai pesan moral tentang kewajiban membayar utang, kalimat penutup sarkastis berbunyi "Janji harus ditepati, apalagi kalau Keluarga Selebgram" hingga spanduk ketiga yang memajang lembar-lembar bukti transfer bank dengan nominal fantastis mencapai setengah miliar rupiah. 


Semua mengarah pada satu nama rekening tujuan: Suriyadi.


Menggugat dengan Komedi


Dunia penagihan utang di Indonesia sedang bergeser, dan Pekanbaru menjadi panggung eksperimen teranyarnya. Menagih uang kini tak lagi melulu soal otot dan intimidasi, melainkan adu taktik psikologis di ruang publik.


Seorang pria di antara kerumunan penagih, yang akrab disapa Muwek, tersenyum lebar saat ditanya mengenai motif di balik metode "jenaka" ini. Bagi Muwek dan kelompoknya, kedatangan mereka hari itu ibarat memberikan pesta kejutan ulang tahun yang tak diinginkan oleh sang pemilik rumah.


"Kita datang untuk memberi surprise. Kan boleh?" kata Muwek dengan nada berseloroh. 


"Mereka (Suriyadi dan Budi, Red) kan berteman baik. Karena baik, makanya kami datang untuk menghibur Pak Suriyadi. Kami titip pesan dan nasihat dari teman lamanya agar tetap semangat, sehat, dan lancar rezeki supaya bisa menunaikan kewajibannya."


Taktik komedi satir ini terbukti ampuh menarik simpati publik sekitar. Alih-alih merasa terganggu oleh kebisingan di lingkungan mereka, warga yang melintas justru menonton sembari melempar senyum. Bahkan, ketika salah seorang warga setempat melintas dan menyadari siapa yang sedang ditagih, sebuah celetukan spontan keluar.


"Banyak utangnya sama kalian? Ngapain dicari, memang sudah banyak yang nyari..." ujar warga tersebut sembari berlalu.


Mendengar konfirmasi bawah sadar dari warga, Muwek dan rekan-rekannya hanya bisa tertawa heran. "Kami akan datang lagi sampai tugas kami menghibur Pak Suriyadi selesai," ketus Muwek berkomitmen.


Rumah sang Selebgram


Rumah di Jalan Firdaus itu sebenarnya tidak asing bagi publik Pekanbaru dalam beberapa pekan terakhir. Bangunan itu adalah kediaman keluarga seorang selebgram lokal terkemuka berinisial CS. Ketukan demi ketukan di pagar rumah hari itu tak berbalas. 


Melalui celah pagar, hanya tampak satu unit sepeda motor yang terparkir sepi di garasi. Rumah itu tampak kosong, seolah sang penghuni sengaja menelan diri dalam kesunyian.


Bagi keluarga CS, urusan utang piutang sang ayah, Suriyadi, seolah menjadi pelengkap dari rentetan badai yang sedang merundung ruang domestik mereka. Belum kering ingatan publik saat CS terseret dalam pusaran kasus hukum yang jauh lebih pekat.


Belum lama ini, sang selebgram diciduk aparat kepolisian bersama 12 orang rekannya di sebuah Tempat Hiburan Malam (THM) di Pekanbaru. Pesta malam itu berakhir di tangan Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polri. Hasil Asesmen Terpadu menyatakan seluruh kelompok tersebut—termasuk CS dan seorang anak bupati berinisial F—positif mengonsumsi narkoba.


Kasus tersebut kini bergulir panas di meja hijau. Salah satu dari lingkaran pertemanan elite itu, Fa yang dikenal sebagai pengurus HIPMI Pelalawan, telah resmi ditetapkan sebagai tersangka atas kepemilikan narkotika jenis ganja. Sementara CS, F dan rekan-rekan lainnya dijadwalkan akan segera menghuni kursi saksi di pengadilan untuk membedah malam jahanam di THM tersebut.


Di saat CS harus bersiap menghadapi sorotan tajam jaksa di persidangan, sang ayah kini justru diburu oleh masa lalunya sendiri yang bernilai Rp500 juta.


Panggung yang Belum Usai


Matahari mulai meninggi, mendekati waktu salat Zuhur. Karena pintu rumah tak kunjung terbuka dan tidak ada tanda-tanda kehidupan dari dalam, kelompok penagih utang pimpinan Muwek itu akhirnya mulai mengemas pengeras suara dan melipat spanduk-spanduk mereka. Mereka memutuskan untuk menyudahi "konser" pagi itu.


Uniknya, bubarnya para penagih ini justru menyisakan kekecewaan kecil bagi penonton gratisan di pinggir jalan. "Lho, kok cepat kali pulangnya? Joget-joget lah lagi," celetuk seorang warga setempat yang merasa terhibur dengan tontonan satir tersebut.


Muwek hanya tertawa lepas sembari melambaikan tangan, menjanjikan "pentas sekuel" di hari berikutnya jika hak sang klien belum juga terpenuhi.


Di balik tawa warga dan goyangan musik jenaka di Jalan Firdaus, tersimpan sebuah ironi yang mendalam tentang runtuhnya sebuah reputasi. Sebuah keluarga yang terbiasa membangun citra glamor di layar media sosial, kini harus menyaksikan dinding-dinding rumahnya runtuh secara sosial—terhimpit di antara berkas perkara narkoba sang anak, dan nyanyian tagihan utang sang ayah. ** (Fadly)


Bagikan Artikel Ini:

Tinggalkan Komentar dengan Akun Facebook:
Tulis Komentar